Perubahan struktur ekonomi, umum disebut transformasi
stryktural, dapat didefisinikan sebagai suatu rangkaian perubahan yang
saling tekait satu dengan yang lainnya dalam komposisi AD, perdagangan luar
negri (ekspor dan inpor), AS ( produksi dan menggunakan faktor-faktor produksi
yang diperlukan mendukung proses pembanggunan ekonomi yang berkelanjutan) (
chenery, 1979).
1.
Teori dan Bukti Empiris
Teori perubahan struktural menitik beratkan pembahasan pada
mekanisme transformasi ekonomi yang dialami oleh NSB, yang semula lebih
bersifat subsistens yang lebih modern, yang didominasi oleh sektor-sektor
nonprime. Teori Arthus Lewis pada dasarnya membahas proses pembangunan
ekonomi yang terjadi di perdesaan dan perkotaan.
Perekonomian Negara terbagi menjadi dua, yaitu perekonomiaan
tradisioanal dipedesaan yang didominasi oleh sektor pertaniaan dan
perekonomiaan modern diperkotaan dengan industry sebagai sektor utama.
Dipedesaan, karena pertumbuhan penduduknya tinggi maka terjadi kelebihan suplai
tenaga kerja, dan tingkat hidup masyaraktnya berbeda pada kondisi subsistens
akibat perekonomian yang sifatnya juga subsistens.
Kerangka pemikiran teori chenery pada dasarnya sama seperti
di model Lewis. Teori chenery, dikenal dengan teori pattern of development,
menfokuskanpada perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi di
NSB, yang mengalami transformasi dari pertanian tradisional (subsistens) ke
sector industri sebagai mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi. Hasil
penelitian empiris yang dilakukan oleh chenery dan syrquin (1975)
mengindentifikasi bahwa sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat
perkapita yang membawa perubahan dalam pola dalam permintaan konsumen
daripenekanan pada makanan dan barang-barang manufaktur dan jasa.
Perubahan struktur ekonomi berbarengan dengan pertumbuhan
PDB yang merupahkan total pertumbuhan nilai tambah bruto (NTB) dari semua
sector ekonomi dapat dijelaskan sebagai berikut. Dengan memakai persamaan
(3,7),misalkan disatu ekonomi hanya ada dua sector, yakni industry dan
pertanian dengan NTB masing-masing, yakni NTBi dan NTBp yang
membentuk PDB: atau, PDB= NTBi + NTBp, 1=[a(t)I
+ a(t)p]PDB.
Berdasrkan model ini, kenaikan produksi sector industri
manufaktur dinyatakan sama besarnya dengan jumlah dari empat factor berikut.
a.
Kenaikan permintaan
domestic, yang memuat permintaan langsung untuk produk industry manufaktur plus
efek tidak langsung dari kenaikan permintaan domestic untuk produk
sector-sektor lainnya terhadap sector industry manufaktur.
b.
Perluasan exspor
(pertumbuhan dan diversifikasi) atau efek total dari kenaikan jumlah ekspor
terhadap produk industri manufaktur.
c.
Substitusi impor atau
efek total dari kenaikan proporsi permintaan ditiap sector yang dipenuhi lewat produksi
domestic terhadap output industry manufaktur.
d.
Perubahan teknologi
atau efek total dari perubahan koefisien input-output (aij) didalam
perekonomian akibat kenaikan upah dan tingkat pendapatan terhadap sector
industri manufaktur.
Indikator penting kedua yang sering digunakan didalam
studi-studi empiris untuk mengukur pola perubahan struktur ekonomi adalah
distribusi kesempatan kerja menurut sector. Sebagi suatu ilustrasi
empirisberdasrkan data bank dunia, pada tahun 1980,NTB yang dihasilkan sector
pertanian rata-rata sekitar 7% dari PDB dunia; sedangkan dari sector industry
yang terdiri atas industry primer (pengilangan minyak) dan industry sekunder
(manufaktur) sebesar 38%.
Didalam-kelompok-Negara-negara-sedang-berkembang-(NSB),
banyaknegara yang juga tejadi transisi ekonomi yang pesat dalam tiga decade
terakhir ini, walaupun pola dan prosesnya berbeda antara Negara. Variasi ini
disebabkan oleh perbedaan antara Negara dalam sejumlah factor internalseperti
berikut.
a.
Kondisi dan struktur awal
ekonomi dalam negeri (basis ekonomi)
Suatu.Negara.yang.pada.awal.pembangunan.ekonomi/industrialisasinya
sudah memiliki industri-industri dasar.
b.
Besarnya pasar dalam
negeri
Besarnya
pasar domestic ditentukan oleh kombinasi antara jumlah populasi dan tingkat
pendapatan riil perkapita.
c.
Pola distribusi
pendapataan
Factor
ini sangat mendukung factor pasar dan tingkat pendapatan rata-rata perkapita
naik pesat.
d.
Karakteristik dari
industrialisasi
Pelaksanaan
atau strategi pengembangan industry yang ditetapkan, jenis industry yang
diunggulkan, pola pembangunan industry, dan insentif yang diberikan.
e.
Keberadaan SDA
Negara
yang kaya SDA mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah atau terlambat
melakukan industrialisasi.
f.
Kebijakan perdagangan
luar negri
Negara
yang menerapkan kebijakan ekonomi tertutup (inward looking), pola dan hasil
industrialisasi berbeda dibandingkan di Negara-negara yang menerapkan kebijakan
ekonomi terbuka (outward looking).
2.
Kasus Indonesia
Sejak awal pemerintahaan orde baru hingga sekarang, proses
pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup pesat. Nilai pertumbuhan bruto (NTB) dari
sector pertanian, perternakaan, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 45%
terhadap pembentukan PDB, dan pada decade 1990-an hanya tinggal 16% hingga 20%,
dan tahun 2006 tinggal sekitar 12,9%. Namun penurunan rasio output pertanian
terhadap PDB tersebut tidak berarti bahwa volume produksi di sector tersebut
berkurang selama periode tersebut (atau pertumbuhan rata-rata pertahun
negative). Pertumbuhan tersebut disebabka oleh lain pertumbuhan output
(rata-rata pertahun pertumbuhan total)disektor tersebut relative lebih rendah
dibandingkan laju pertumbuhan output dari sector industri.
Referensi:
http://irdye07.blogspot.com/2010/11/pertumbuhan-ekonomi-indonesia-sejak.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar